Biografi Sunan Kalijaga
1. Silsilah Sunan Kalijaga
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said atau Raden Sahid. Raden Said lahir di Tuban, Jawa Timur pada pertengahan abad ke 15 M, berbarengan dengan masa akhir Kerajaan Majapahit. Sunan Kalijaga diperkirakan lahir tahun 1450 M. Beliau adalah putra dari Adipati (Bupati) Tuban VIII, yaitu Aria Wilatikta atau Haryo Wilatikta yang juga dikenal dengan nama Raden Sahur. Kakek Sunan Kalijaga bernama Abdurrahman, merupakan seorang keturunan Arab yang bersambung silsilahnya dengan Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW. Saat itu kakek Sunan Kalijaga berhasil mengislamkan Adipati Tuban ke VI yang bernama
Aria Dikara (Haryo Dikara) dan kemudian menikah dengan putri Aria Dikara yang bernama Raden Ayu Haryo Tedjo. Ketika menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Adipati Tuban, Abdurahman menggunakan nama Aria Teja (Haryo Tedjo). Aria Teja memiliki dua orang anak, yaitu Dewi Candrawati dan Raden Sahur. Dewi Candrawati menikah dengan Sunan Ampel. Raden Sahur adalah ayah dari Sunan Kalijaga. Jadi, Sunan Kalijaga adalah keponakan dari Sunan Ampel.
2.masa kecil sunan kalijaga
Masa kecil Raden Said (Sahid) tidak banyak diceritakan, kecuali ia hidup bersama keluarganya di Tuban, Jawa Timur Sejak kecil, Raden Said telah dididik agama Islam, belajar Al-Qur’an dan menjalankan kewajiban agama Islam, seperti salat dan puasa. Meskipun pada waktu itu Kerajaan Majapahit masih tetap kokoh berdiri menjelang keruntuhannya, namun agama Islam sudah mulai berkembang di wilayah Tuban Islamisası Wali Sanga telah mulai berjalan dan Kerajaan Majapahit cukup toleran terhadap agama Islam. Diceritakan, semasa kecil Raden Said dididik dalam lingkungan keluarga ibunya, yakni putri Nawangarum. Selain diajarkan tentang Islam, Raden Said juga mempelajari tentang sastra Jawa, sehingga membuatnya mahir dan kelak beliau gunakan untuk menyebarkan agama Islam melalui pendekatan budaya lokal. Selain belajar di Tuban, dalam sumber lain disebutkan bahwa Raden Said juga sempat belajar di Pesantren Ampel Denta, Surabaya, milik Sunan Ampel hingga usia remaja.
3.masa remaja sunan kalijaga
Ada sumber yang menulis tentang biografi Sunan Kalijaga, menceritakan bahwa Raden Said pada usia remaja adalah seorang berandal yang mencuri dan merampok untuk membantu para rakyat miskin yang kesusahan. Raden Said putra seorang bangsawan, namun ia tidak seperti bangsawan kebanyakan. Ia menyukai kehidupan bebas yang tidak terikat adat istiadat kebangsawanan la bergaul dengan siapa saja dari semua kalangan masyarakat. Karena pergaulannya yang luas, ia menjadi tahu tentang kehidupan masyarakat tuban
Gejolak jiwa muda Raden Said ikut merasakan ketidakadilan yang terjadi pada rakyat di Kabupaten Tuban, la prihatin sekaligus marah menyaksikan para oknum pejabat pemerintahan yang sewenang-wenang memungut upeti/pajak kepada rakyat. Bahkan rakyat yang saat itu sudah menderita karena kemarau panjang dan gagal panen, masih harus bertambah sengsara karena mereka harus membayar pajak yang jumlahnya kadang melebihi ketentuan yang ada dan jauh darı kemampuan mereka membayar pajak
Pada malam hari, Raden Said menyelinap masuk ke gudang kadipaten tempat menyimpan upeti untuk mengambil bahan makanan kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat miskin yang membutuhkan. Namun, pada suatu malam aksinya tertangkap basah, sehingga ia kemudian dihukum oleh Tumenggung Wilatikta.
Ayah Raden Said, Tumenggung Wilatikta merupakan pejabat terkemuka di wilayah kerajaan Majapahit yang mayoritas memeluk agama Hindu. Tumenggung Wilatikta adalah abdi yang lebih setia kepada rajanya daripada agama Islam. Mungkin juga karena perbedaan pemahaman ini membuat Raden Said memilih meninggalkan kadipaten. Hukuman yang diberikan kepada Raden Said tidak membuatnya jera, Selesai menjalani hukuman,Raden said benar benar keluar dari lingkungan kadipaten dan tidak pernah pulang ia melakukan perampikan dan pembegalan terhadap oara pejabat tuban. Ia memakai topeng khusus dan beepakaian serba hitam saat membegal dan merampok. Hasil rampokan si bagikan kepada rakyat miskin yang membutuhkan.
Pada suatu harı, Raden said tertangkap saat merampok Tumenggung Wilatikta sangat marah dan sebagai hukumannya Raden Said diusir dari wilayah Kabupaten Tuban Raden Said mengembara tanpa tujuan pasti. Pada akhirnya, ia menetap di hutan Jatiwangi. Menjadi perampok dan begal serta membagikan hasil rampokannya kepada fakir miskin di hutan
Jatiwangi, raden said menyembunyikan identitas aslinya. Orang orang menyebutkan dengan “Berandal lokajaya”
Saat berada di hutan Jatiwangi inilah yang menjadi titik balik kehidupan Raden Said, yaknı setelah pertemuannya dengan Sunan Bonang Raden Said menghadang dan merampok tongkat Sunan Bonang yang berkilauan layaknya emas. Setelah berada di tangan Raden Said, tongkat itu ternyata bukan dari emas, sehingga dikembalikannya Sunan Bonang bertanya kepada Raden Said tentang tujuannya berada di hutan Jatiwangi Raden Said menjawab ia berada di hutan Jatiwangi merampok untuk bersedekah kepada fakir miskin Sunan Bonang menasehati bahwa bersedekah dengan hasil merampok sama halnya dengan orang berwudu dengan air kencing Allah itu adalah Zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal Diceritakan juga, dalam pertemuan itu Sunan Bonang menunjukkan kehebatannya yang mampu merubah pohon Aren menjadi emas, kemudian mengembalikannya ke asal semula Pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang ini mampu menyadarkan Raden Said Rasa malu mulai memenuhi lubuk hatinya dan ia mulai menyadari bahwa perbuatannya selama ini keliru Raden Said tidak mengetahui yang ia begal adalah Sunan Bonang. Raden Said ingin berguru kepada Sunan Bonang. Namun, saat ia ingin mengutarakan keinginannya, Sunan Bonang telah pergi Raden Said mengerahkan segenap kemampuannya untuk berları mengejar lelaki tua tersebut Hingga sampai di tepi sungai, Sunan Bonang behenti, barulah Raden Said berhasil menyusulnya Sunan Bonang tidak langsung menyetujui keinginan Raden Said untuk menjadi muridnya Sebagai syaratnya, Raden Said diperintahkan untuk menunggui tongkat yang ia tancapkan di tepi sungai. Raden Said tidak boleh beranjak sampai dia kembali ke tempat tersebut sebagai syarat menjadi muridnya. Diceritakan bahwa Raden Said tinggal di hutan itu selama tiga tahun dalam kondisi tertidur dan badannya tertimbun akar pepohonan yang melilitnya.
